4 Desainer Indonesia Sulap Tenun NTB Jadi Busana Modern

Tenun NTB Jadi Busana Modern

dok. Wolipop

Batik tidak lagi menjadi satu-satunya kain tradisional Indonesia yang menarik untuk dieksplorasi. Misalnya saja, hasil kerajinan tenun dari Nusa Tenggara Barat (NTB) yang juga berpotensi untuk dikembangkan.

Untuk lebih mengenalkan keragaman tekstil seperti tenun dan songket dari bermacam-macam daerah di NTB, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (DEKRANASDA) provinsi Nusa Tenggara Barat mengajak empat desainer Indonesia untuk merancang busana dengan bahan dasar kain tenun khas Lombok dan Sumbawa. Para desainer tersebut memamerkan karyanya dalam gelaran acara yang bertajuk ‘Lombok Sumbawa Ethnic Fashion 2012′.

“Kami ingin kain NTB bisa dinikmati, dipakai dan dikenal luas. Oleh karena itu, banak tamu dari negara sahabat yang kami undang. Mudah-mudahan dengan adanya acara malam ini, kain NTB bisa lebih dikenal luas baik di dalam maupun di luar negeri. Ada empat desainer yang tampil. Dua desainer dari NTB dan dua lagi dari Jakarta. Kurang lebih ada 60 baju yang mewakili 10 kabupaten kota,” ujar Robiatul Adawiyah Majdi, ketua DEKRANASDA provinsi NTB saat konferensi pers di Hotel Mulia, Jakarta pada Rabu (31/11/2012).

Peragaan busana diawali oleh karya dari desainer asal NTB, Epoel Daeng Hasanung. Ia menghadirkan sembilan busana pria yang terbuat dari kain tenun warna-warni. Koleksi pria tersebut terdiri luaran seperti jaket, jas dan coat. Epoel juga menghadirkan kemeja dan celana longgar dengan detail patchwork serta aksen kilau di bagian dada. Warna tenun yang solid sengaja dibiarkan untuk menyatakan tampilan colorblock.

Setelah Epoel, giliran Desainer muslim Irna Mutiara yang pamer 20 koleksi busana muslim. Irna mengaplikasikan tenun sebagai gamis, jaket crop, baju kurung atau sebagai aksentuasi seperti ikat pinggang dan hijab. Walau begitu, bukan berarti koleksi busana Irna tampak ‘berat’ dan tua. Pemilihan warna tenun yang lembut menjadikan rangkaian busananya tampak ‘young’, sekaligus menyatakan ciri khas Irna yaitu, feminin.

Desainer ketiga yang menampilkan busana rancangannya adalah Deden Siswanto. Dengan mengambil tema Native Mixture, Deden menyulap kain tenun menjadi tampilan kasik Roma, baroque. “Sentuhan baroque lebih kepada stylenya. Kan ada benang emas di tenun, nah itu saya eksplorasi ke arah gaya baroque yang sedang menjadi tren terkini,” jelas desainer yang sedang membiasakan diri memakai sarung demi melestarikan budaya.

Tak heran jika penggunaan bahan velvet dapat ditemui dalam koleksinya. Motif ulir dari tenun dipertahankan dan dibuat sedemikian rupa agar tercipta tampilan klasik ala gereja Italia. Koleksi Deden sendiri terdiri dari, jaket panjang dengan potongan lengan oval, terusan draperi, celana flare dengan detail peplum, serta terusan maxi dengan bordir ulir emas pada pinggang dan punggung. Kurang lebih, Deden menyajikan 10 busana pria dan 10 busana wanita.

Terakhir adalah, desainer asal NTB Linda Hamidi Grander yang menunjukkan kebolehannya dengan 11 rangkaian cocktail dress. Linda menampilkan busana yang kental dengan tampilan gothic-glamour dengan memadukan palet gelap bersama detail emas serta motif besar dari kain tenun. Kain tradisional itu, tak hanya menjadi aksen tetapi juga menjadi bahan utama di semua pakaian. Bahkan tak jarang, hadir secara bersamaan sebagai detail dan juga material secara keseluruhan.

(eya/kik)
Sumber: Wolipop.com